Selasa, Maret 18, 2014

Komunikata


Sanblog, jika kita berbicara soal komunikasi tentu tidak akan jauh dari persoalan bagaimana cara kita berinteraksi. Karena, awal mula komunikasi terjadi bila sudah ada interaksi. ya minimal saling sapa. Atau mungkin malah sebaliknya kali ya. Adanya komunikasiadalah efek dari terjadinya interaksi. :)

Kata teman, bahasa komunikasi saya paling susah dimengerti. Ada yang mengartikan komunikasi saya lumayan ribet, agak ribet, dan sedikit ribet. Ada juga yang mengatakan komunikasi saya kurang bagus alias tidak tertata dengan baik. Dari awal membuka obrolan sampai akhir. Dan ada yang mengatakan komunikasi saya sering berlebihan, lebay, dan banyak basa basinya. Ya itulah pendapat sebagian teman yang pernah berkomunikasi dengan saya.

Beberapa kali saya jumpai, lebih baik saya diam 1000 (seribu) omongan itu lebih nyaman daripada mengeluarkan 1 (satu) omongan bisa membuat kebingungan yang mendalam. Sepanjang berinteraksi via apapun, rasanya yang mengerti omongan saya hanya beberapa orang saja. Itupun orang-orang tertentu saja. Tidak banyak yang mampu memahami maksud omongan saya. Apalagi kalau omongan terjadi pada saat diskusi. Wah, saya akan menyerah kalah tanpa ada perlawan. Habisnya, sekali saya membuka omongan yang memahami perkataan saya hanya beberapa saja. Kalaupun ada, mungkin orang tersebut setipe kali ya dengan saya. Kalau sudah angkat omongan, omongan saya abstrak tak tersusun dengan rapi. Ya itulah seni saya dalam berbicara. Tidak runut dan tidak pula sesuai dengan EYD. Bahkan teman saya berpesan "besok kalau mau ngobrol pakai S.P.O.K yang bener ya pak!". Wow, saya diperhatikan sampai segitunya.

Itulah saya. Saya mungkin baru bisa menggunakan bahasa instruksi. Selebihnya, saya belum pandai merangkai kata dengan benar. Jangankan perkataan lewat omongan, lewat tulisan saja, saya belum efektif menggunakan kata. Dan pribahasa "Diam adalah emas" adalah kalimat yang paling cocok saya pakai dalam berinteraksi. Kalaulah sepakat tinggal anggukkan kepala, kalau tidak sepakat ya kepala tinggal digelengkan saja. Yang terpenting, isyarat kepala mempermudah saya berkomunikasi dengan yang lainnya.

Ada banyak kisah yang membuat saya harus kerja dua kali dalam berkomunikasi. Terutama berkomunikasi via hp (w.a, fb, twitteran, line, dll). Kerjaan yang pertama menjelaskan. Tapi karena yang saya jelaskan tidaklah membuat oranglain mengerti, akhirnya itu akan menjadi pekerjaan saya yang kedua. Yakni, menerangkan perkataan saya secara perlahan-lahan sampai benar-benar jelas.

Kisah demi kisah yang saya alami membuat tangan dan otak ini harus berfikir. Berfikir untuk menulis, menggambar, dan merekam beberapa kejadian tersebut dan menuangkannya dalam kanvas kepribadian selanjutnya. Pada akhirnya, saya harus memilah-milah kata dan sikap dalam berkomunikasi dengan bermacam-macam orang. Dan saya mengetahui ~sekalipun hanya sedikit yang saya fahami~ dari kejadian-kejadian yang melibatkan orang lain tersebut. Penempatan sikap, watak, dan olahan kata yang baik untuk memulai berinteraksi haruslah tepat sesuai dengan selera mereka. Tidak terlalu keras dan tidak terlalu mellow. Ya setidaknya mendekati kalimat "mudah dimengerti oleh orang yang berinteraksi dengan saya".

Teringat satu kejadian yang saat itu sikap saya berubah drastis hanya dalam waktu lima hari dikepanitiaan OSPEK. Yang awalnya terlihat gagah, sangar, semua pada takut bertatap muka, dikatain galak, tidak memiliki senyum sedikitpun saat berbicara. Saya kemudian di "cap" sebagai lelaki yang kaku. Tapi karena dikepanitian OSPEK harus terlibat akrab  dengan sesama anggota tim dan juga oleh semua panitia. Maka saya mencoba lebur. Dan memang waktu itu saya terlihat begitu sok gaul dan berlebihan. Saya malah dikatain orang yang lebay dan perlu diluruskan. Terus, saya bengkoknya dimana e? Apa yang perlu diluruskan? Apakah ada yang salah dalam diri saya?

Dan jawabannya ; Ya ternyata ada yang salah dalam diri saya. Saya salah karena terlalu lebay memahami arti komunikasi. Seharusnya saya menjadi diri sendiri. Senyum ramah, tidak banyak bicara, selalu berbaik sangka, tidak mudah berkomunikasi dengan bahasa "canda tawa". Cukup adil bila pandai menempatan perkataan sesuai dengan kepribadian.

JANGAN SELALU MEMINTA UNTUK DIFAHAMI
CUKUPKANLAH DIRI UNTUK DAPAT MEMAHAMI

0 komentar:

Posting Komentar


Silahkan sahabat blogger berkomentar apapun si sini. Dan mari membudayakan berkomentar dengan bahasa yang dapat membangun motivasi, saling mengingatkan, dan saling menasehati. Saya tunggu komentarnya :)