Jumat, Februari 13, 2009

Tiga penyesalan


Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh sahabat...

Semoga hati antum antuna masih bersemayamkan Alloh sebagai ghoyah (tujuan) hidup kita dan rosul-Nya sebagai tauladan...

Nikmat sehat, nikmat islam, dan nikmat iman adalah tiga rangkaian nikmat terbesar yang Alloh berikan kepada setiap kita dengan tujuan agar kita senantiasa menghamba kepadaNYa dengan maksimal juga optimal. sepakat sahabat???

Sahabat. Sedikit ana ingin bercerita tentang kisah tiga amal yang disesalkan. Tiga amalan yang disesalkan ini bukanalah amal keburukan, melainkan amal kebaikan.

Biiznillah, bismillahirrohmanirrohim

Pada masa Rosululloh saw masih hidup. Beliau suatu ketika didatangi oleh seorang umahat (ibu-ibu) yang suaminya sedang menghadapi sakaratul maut. Umahat tersebut menghadap rosululloh sambil membawa berita yang mengagetkan rosululloh. Apa perihal berita yang mengagetkan rosul kala itu. Ternyata berita yang disampaikan yaitu keadaan suamianya yang sedang menghada[pi sakaratul maut namun tidak mau menyebutkan kalimat tauhid seperti yang dituntunkan (talqin) oleh sahabat yang menemaninya.

Umahat tersebut mengatakan bahwa sang suami menyebut-nyebut tiga perkara. Perkara yang rosululloh dengar ialah pertama suaminya menyebut-nyebut kalau saja masih jauh. Perihal yang kedua sang suami menyebut kalau seandainya saja semuanya. Dan perihal ketiga terakhir sang suami menyebut-nyebut kalau seandainya masih baru.

Saat itu dengan bantuan malaikat Zibril, Rosululloh mencoba menerangkan apa yang malaikat zibril sampaikan kepadanya. Hal pertama yang antum (ibu) tadi bermakna bahwa semasa hidupnya, suamimu pernah menjumpai seorang yang tua kagi jompo. Kemudian orang tua tadi tidak berjalan dan ia menggendong bapak yang jompo tadi untuk diantarkan sampai tujuan. Namun sayang, tujuan bapak tua tadi terlalu dekat. Sehingga timbul rasa penyesalan dihati suamimu. Seandainya masih jauh, pasti aku akan bisa menuai amal yang baik jauh lebih banyak lagi. Perihal kedua bermakna bahwa suatu ketika suamimu pernah memberikan sekerat roti kepada orang yang meminta-minta. orang yang meminta minta tadi sangat tersiksa kondisinya karena bebreapa hari tidak makan. Namuan sayang, suamimu memberikan rotinya hanya sebagian bukan semuanya. Sehingga ia merasa menyesal mengapa mengamalkan kebaikan hanya setengah-setengah. Dan perihal terakhir maknanya ialah suatu ketika pula suamimu pernah memberikan jas hujan ataupun mantel kepada bapak-bapak tua. Ketika itu, mantel yang ia berikan bukanlah mantel baru namun mantel yang sudah lusuh lagi kumal dan disana-sini ada beberapa jahitannya. Nah, perihal ketiga ini ia sesalkan karena suamimu berbuat kebaikan tidak dengan hal yang terbaik yang ia punya.

Sahabat, kehidupan memang begitu. Ini baru sedikit kisah dizaman Rosul masih hidup. Banyak hal yang harus diprioritaskan. Namun, dalam beramal prioritaskanlah untuk bisa saling itsar (mendahulukan orang lain) dalam konteks mu'amalah ijtima'i (amal-amal dalam bermasyarakat) bukan saling mendahului kepentingan pribadi diatas orang lain.

Sahabat, bisakah kita seperti orang yang ilustrasikan diatas tadi. Semoga taufik Alloh yang menuntun kita kejalan yang benar lagi adil. Perkara mana yang Alloh tidak mampu memecahkannnya? Insya Alloh tidak ada yang tidak terpecahkan, karena Alloh adalah Al Hakim (adil) lagi bijaksana. Dan Insya Alloh dalam kehidupan ini bila orientasi kita adalah hidup dunia untuk akhirat. Memikirkan diri sediri itu baik, namun alangkah lebih baiknya lagi bila kita bisa memikirkan orang lain pula.

Sahabat, tafaddol antum ambil ibrohnya masing-masing ya.
semoga bermanfaat dunia untuk akhirat...

biarlah dunia itu kita genggam ditangan, namun akhirat kita patri di dalam hati...


*****

Sleman-Yogyakarta
16 Februari 2009
Internet hasil Jam 06:23