
Disekolahkan sudah. S3 sampai keluar negeri juga sudah dituruti.
Minta menikah, sudah dinikahkan.
Minta di carikan rumah. Sudah dicarikan.
Coba tad, kurang apa jama'ah ngurusi dirinya? Tapi kok begituya orangnya. Pengenne piye tho?. Disuruh ngaji aja ndak mau berangkat. Dikeluarkan orangnya ndak mau. Tapi kejama'ahannya kurang. Ki piye tho tad?
Ini celotehan? Iya, celotehan ini ku dengar sendiri dari seorang da'i yang kebetulan sedang berbicara dengan da'i lainnya di dalam avanza yang ku sopiri beberapa waktu lalu. Memang ini
sih
topik pembicaraan yang seharusnya tidak perlu aku tuliskan di halam ini (out side). Namun ada kalanya kita harus memaksa menarik hikmah dari setiap kejadian yang pernah hadir di kehidupan kita.
Coba pikirkan gan! Seorang aktivis dakwah yang kesehariannya selalu disibukkan dengan aktivitas pokok dan sunnah, secara tiba-tiba berhenti dari hiruk pikuknya aktivitas itu. Rasanya tidak akan bosan ataupun jenuh meninggalkan sekian aktifitas dalam satu sampai tiga hari lamanya. Tapi kalau rutinitas aktivitas dakwah yang kita geluti selama ini ditinggal begitu saja lebih dari satu pekan bisa membuat "gape" amal yang semakin besar. Pasalnya, selama kita meninggalkan rutinitas amal dakwah, kita pasti akan rentan diserang penyakit. Tepatnya penyakit hati. Percaya deh gan. Mulai dari malas ataupun berat untuk memulai rutinitas dakwah kembali. Atau malah keasyikan dengan rutinitas baru yang menggairahkan sehingga rutinitas lama dianggap penggangu saja.
Bisa dibayangkan bosannya hidup seperti apa bila hanya memiliki satu pola keseharian yang sama.Itu-itu juga. Makan, berangkat kerja,
istirahat,
tidur malam, terus bangun pagi dan makan lagi, berangkat kerja dan istirahat, kemudian tidur malam lagi. Berulang-ulang begitu setiap hari. Hidup seperti itu apa nggak bosan ya? Tidak dinamis dan tidak pula elastis. Selevel kader dakwah yang nganggur tanpa amanah saja pasti terlena dengan urusannya sendiri. Apalagi yang belum pernah menjadi kader dakwah. Pasti terlenanya melebihi kader dakwah pada umumnya.
Laiknya azam seorang Khalid Bin Khalid si Pemegang Arena jihad. Ia berazam semoga Allooh berkenan mematikannya di medan pertempuran. Namun apa yang terjadi. Semakin sering beliau bergerak dan memberikan ciri dinamisasi dakwah dalam medan pertempuran. Maka Allooh pun semakin menambah usia beliau. Sampai pada akhirnya beliau meninggal di atas dipan. Apakah ketika ajal tiba sang Khalid menyesal karena meninggalnya bukan di medan pertempuran melainkan di atas dipan? O tidak sob. Justru beliau bahagia. Bahagia dengan pergerakan yang beliau lakukan sepanjang hidupnya yang telah memberikan ciri tersendiri. Ciri yang mengakar kuat dalam kepribadiannya sebagai seorang muslim. Bahkan sebenarnya beliau bosan mengapa masih hidup setelah semua peperangan itu usai. Namun bosannya beliau selalu ditumpah-ruahkan dalam takbir kemenangan. Sehingga beliau tidak bosan-bosannya mencari kesyahidan dalam setiap pertempuran. Dan beliau terkenal sebagai orang yang paling bergairah mencari kesyahidan dalam medan laga.
Begitu dinamisnya dakwah ini. Sampai-sampai para da'inya pun tidak pernah bosan menjadi sosok pembaharu dalam setiap langkah dakwahnya. Dan kalau masih ada kader dakwah yang tidak mau ngaji. Ini berarti ada penyakit kronis yang perlu di obati. Biar bagaimanapun juga, penyakit tetaplah penyakit. Sumbernya selalu berasal dari diri dan lingkungannya. Amal pribadinya bolehlah bertambah. Namun amal jama'ah kudu dijaga dan ditingkatkan. Lha kalau membangun negeri Indonesia yang madani pakai caranya sendiri-sendiri ya capek no. Coba kalau didirikan secara jama'ah. Capeknya ndak terasa. Malah ukhuwahnya semakin terjaga. Lha penak tho mas? :)
Coba tad, kurang apa jama'ah ngurusi dirinya?






kurang hidayah :)
BalasHapusSemoga kita selalu diberikan kekuatan untuk senantiasa mempertahankan hidayah yang sudah diberikan ya mas @Muhammad Iqbal Muharram Ruhyanto (senyum)
BalasHapus