
" Hormat apaan tho?
Ana kan rakyat jelata juga sama kayak yang lainnya. Biasa wae.."
Bagiku kalimat balasan dari W.A ini tidak biasa. Ini justru menginspirasi diriku untuk menampilkan tulisan ini kedunia maya. Memang sih hanya sekedar kalimat jawaban biasa. Apalagi sekedar kalimat jawaban What'sApp. Apasih istimewanya? Cuma kalimat baisa begitu. Namun aku mengatakan bahwa kalimat ini bukan kalimat yang biasa. Nah, inilah keistimewaan kalimat itu.
Kita bukanlah rakyat jelata.
Nyatanya kita rakyat yang mengedepankan etika.
Kita rakyat yang masih mampu membangun masa depan dengan asa dan bukan sekedar berita.
Faktanya, kita lah masyarakat yang cantik jelita.
Cantik dari penampilan, jelita dalam wawasan dan tujuan.
Rakyat jelata belum mampu berbicara tentang bangsa.
Sedangkan rakyat jelita selalu berbicara tentang dialektika masa muda dan masa tua.
Lebih dalam lagi. Masyarakat jelita itu pandai dalam menata wacana dan pintar untuk merealisasikannya.
Seringnya kita lupa atau mungkin bisa jadi kita menyediakan memori yang sedikit untuk mengingatnya.
Bahwa. Kitalah masyarakat yang diharapkan negeri
mantan
para raja.
Negeri yang kini di dalamnya banyak tangan para penguasa.
Untuk mewarnainya dengan corak yang berbeda.
Ya. Dengan corak yang jelita nan bersahaja.
Menjadikan negeri mantan para raja ini negeri yang cantik mempesona.
Tentunya dengan cinta, kerja, dan harmoni yang membahana.
Belajar menjadi manusia yang jelita berarti sudah menyiapkan diri siap dipandang banyak mata.
Bila sudah demikian adanya.
Maka hanya ada satu syarat agar sorotan mata tersebut tidak terpalingkan seketika.
Yakni teruslah bekerja, biarlah mereka yang menentukan pilihannya.
Toh republik ini bukan milik media. Melainkan milik manusia yang mempunyai sepasang mata.
Yang penglihatan mereka tidak bisa diperdaya oleh kamera.
Mereka akan menilai langsung dengan seksama.
Bahwa kita adalah manusia jelita menurut kaca mata mereka.
Semangatlah kawan. Diujung lorong ini akan ada satu jalan yang menghantarkan kita pada satu tujuan hidup yang hakiki. Yakni kemenangan dakwah diatas kemenangan pribadi. Kemenangan cinta diatas kemenangan nafsu yang celaka. Kemenangan demi kemenangan akan menjadi niscaya manakala sebelumnya kita sudah pernah merasakan kekalahan. Dan bumbu dari kemenangan adalah kekalahan yang pernah kita rasakan.
Inilah istimewanya kalimat itu. Bahwa jelata tidak memiliki makna apa-apa bila disandingkan dengan jelita. Sebab jelita mampu memberika pesona cinta yang mengharmonikannya dengan kerja-kerja nyata.
Fhoto ini diambil dari sini






0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan sahabat blogger berkomentar apapun si sini. Dan mari membudayakan berkomentar dengan bahasa yang dapat membangun motivasi, saling mengingatkan, dan saling menasehati. Saya tunggu komentarnya :)