Senyum setengah spion, apa itu? Itu senyumnya seorang bapak yang tadi saya jumpai di pinggiran Jalan Magelang, Yogyakarta. Beliau tersenyum namun agak kurang sedikit polesan. Senyum yang menurut saya cukup membunuh karakter "saat itu". Tahukah kamu maksud dari gambar diatas? nah, itu gambar yang membuat senyum saya agak miring disaat-saat saya ngobrol dengan beliau. How come? Nah, begini ceritanya ;
Saat ini si grandis (nama motor grand saya) sedang saya perbaiki secara fisik beserta surat menyuratnya. Nah, saya sebenarnya tipikal manusia klasik. Manusia yang tidak begitu menyukai modifikasi motor maupun elektronik milik sendiri. Khusus motor, saya tidak begitu menyukai motor yang hanya menggunakan spion kanan atau kiri saja, atau ada spionnya namun hanya berguna sebagai hiasan demi menghindari razia kepolisian. By the way, dudukan1 spion si grandis yang sebelah kiri sudah dol (lobok, atau longgar karena sudah porosi) sehingga spion sebelah kiri sudah tidak bisa lagi di pasang dengan benar. Cara satu-satunya yang terpikir oleh saya adalah mencari bengkel yang menyediakan mesin bubut. Alhamdulillah, tadi sore saya sudah mengunjungi bengkel yang direkomendasikan.
Namun, agak disayangkan memang ketika senyum yang menjadi simbol keramahan jogja "tampak"nya agak hilang dari wajah si bapak. Bukan berarti beliau tidak tersenyum di setiap menanggapi pertanyaan mengenai drat2 spion saya. Akan tetapi, saat beliau menjelaskan permasalahan yang saya hadapi, beliau tersenyum disambi3 dengan mengeluarkan perkataan yang agak "meninggi". Mungkin dengan ilmu yang beliau miliki, saya manusia bodoh yang tidak mengerti apa-apa. Karena sayatidak mengerti dengan dunia kepakaran beliau, sehingga saya bertanya untuk menyakinkan apa yang seharusnya saya lakukan setelah gagal memasangkan spion kiri si grandis. Wal hasil wajah ini agak tertekuk karena tanggapan beliau yang tidak begitu -mungkin- senang akan pertanyaan saya.
Walaupun pertemuan singkat tadi agaknya menengangkan, alhamdulillaah Allooh memberikan kesempatan bagi saya yang telah berhasil menyunggingkan senyum terakhir di depan beliau sesaat sebelum melajukan si grandis menuju boarding house. Semoga kedepan, saya mudah tersenyum dalam kondisi yang sangat sulit sekalipun. Karena wajah yang dihiasi dengan senyuman -apalagi senyum ikhlas tanpa dibuat-buat- selalu menghadirkan ketentraman dan kenyamanan. Mungkin bukan hanya saya, tentunya kalian juga bisa seperti itu guys. Betapa senangnya hidup ini bila kita tahu nikmatnya memprioritaskan amal sedekah -tersenyum- tanpa meninggalkan keberkahannya. :)
Ilmu bukan untuk disombongkan, sehingga mejadi wajar jika manusia yang berbudi adalah mereka yang memiliki ilmu yang di amalkan lewat hati. Bukan disampaikan lewat nada tinggi.
Trisno
2 = Mengikat atau mengencangkan dua benda yang umumnya terbuat dari besi atau sejenisnya.
3 = Dua aktivitas yang dilakukan secara bersamaan dalam satu kondisi.




























