عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ
)). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ
الْبُخَارِيُّ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu
bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!”
Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR
al-Bukhâri]
Assalamu'alaykum sahabat, Pernahkan kita marah dengan alasan yang tidak jelas? Tiba-tiba kita ingin marah saja. Terlebih lagi bila marah dengan alasan yang jelas . Semisal marah karena amanah yang tidak kunjung tuntas atau mungkin ada hal yang seharusnya bisa tuntas dalam semenit namun molor sampai dua pekan lamanya (baca : hampir deadline).
Berbicara tentang amanah, ada satu kejadian yang diriku ingat. Kebetulan terjadi baru-baru ini. Diriku merasa sudah melakukan sesuai dengan apa yang telah diputuskan di pertemuan sebelumnya. Kemudian di suatu kesempatan, siang itu diriku disibukkan dengan satu pekerjaan yang hasilnya setengah jadi. Ditengah-tengah kondisi yang agak memaksa fisik harus bekerja dengan otak yang tidak sinkron tiba-tiba diriku menerima dua SMS yang lumayan panjang di siang hari dimana saat itu panasnya matahari ikut menyukseskan panasnya otakku memikirkan SMS itu. Saat itu diriku hanya membaca sekilas dan saat itu juga diriku cukup kesal dengan isi SMS nya. Awalnya, diriku menyangka isinya sebuah pernyataan dan masukan saja. Dan diriku baru mengetahui di akhir komunikasi via SMS, bahwa maksud SMS teman berupa pertanyaan yang meminta sebuah penjelasan. Diawal aku menyangka kalau SMS si temen itu menjelaskan seolah-olah aku dan kawan-kawan tidak mengerjakan amanah yang sudah diputuskan bersama. Karena bahasa SMS nya itu bukan bahasa pertanyaan dengan menggunakan kata tanya "Apakah? atau Bagaimana? atau Eh eh eh bro, mau tanya mau tanya. Itu kemarin sudah dikerjain belum ya?".
Tahu tidak yang aku lakukan gan? Saat itu juga aku menelpon nomor temen ku yang mengirim SMS tersebut. Berharap nomornya diangkat, eh ternyata tidak mau diangkat-angkat. Ya sekitar 3 kali nelpon. Lalu diriku diamkan cukup lama. Dan ku telpon kembali berharap kali ini diangkat. Namun hasilnya tetap sama, tidak diangkat juga. Saat itu kekesalanku sudah membumbung tinggi. Ini teman maunya apasih. minta penjelasan (tabayun) tapi ndak mau ngangkat telpon dari ku. Kalau aku bisa telepati aku akan bilang sama temanku itu, "bro sis, aku lagi nyetir ni. Jadi agak susah SMSan. Aku cuma bisa nelpon sebab aku lagi punya paket gratisan ngobrol dan juga aku pakai earphone. Angkat dong telponku. Diriku mau nanya maksud SMSmu barusan". Tapi karena telepati bukan kemampuanku dan telponan juga masih lama menunggu, akhirnya diriku SMS juga. Eh ternyata temenku sakit tenggorokan dan batuk-batuk sehingga tidak bisa mengangkat telponku saat itu. Ditengah-tengah diriku sedang kesal. Diriku balas SMSnya dengan tips melegakan tenggorokan. Endingnya aku dan dia marahan cukup beberapa menit. Setelah semua urusan saling jelas menjelaskan via SMS terselesaikan.
Setelah di usut dari sumber permasalahan yang terjadi. Ternyata semua ini penyebabnya gara-gara SMS penting yang seharusnya tersebar tidak diterima oleh handphone teman ku. Sehingga wajar bila temanku bertanya-tanya tentang amanahku selama ini. Alamak, operatoooooor, kemana dikau sangkutkan SMS-SMS penting itu. Grrrr
Setelah kejadian marahan itu. Sering terlintas dibenakku ( dan ini sering terjadi. Bahkan tidak saja saat selesai marah. Semisal setelah mengalami keadaan yang lain yakni pada saat nyuekin lawan bicara di forum, atau bahkan pada saat ngobrol). Aku sering memikirkan kebaikan orang-orang terkait di dalam kejadian itu. Rasa-rasanya tak pantas diriku marah-marah ke mereka. Tak pantas cuek terhadap mereka. Semua rasanya tak pantas. Kebaikan mereka itu yang membuat diriku tak pantas melakukan semua hal yang sia-sia begitu. Jujur saja, teman yang ku marahi barusan itu juga baik sekali dengan ku. Dan aku lupa. Kebaikan beliau itu banyak sekali untuk tidak dilupakan gan. Yang ku tahu orangnya baik. Itu yang terpenting.
Untuk urusan marahan gara-gara SMS, aku punya sedikit tips untuk menanganinya,
Pertama, Kalau pas lagi capek, penat, tapi kondisi terus bekerja dan kemudian menerima SMS yang emosinya berbeda dari biasanya. Awalilah mengucapkan basmalah sebelum membaca SMS nya. Jadi kita bisa mencerna dengan baik maksud dari isi SMS nya. Itu SMS pertanyaan ataukah SMS pernyataan. Kalau SMS nya tidak jelas, balaslah SMS nya dengan pertanyaan yang sopan. 'afwan mas, maksudnya bagaimana ya?
Kedua, Pada umumnya, ini mungkin sepintas perasaanku saja. Yang namanya bahasa SMS itu selalu ambigu. mungkin teman kita berharap sekedar bertanya atau meminta bayanat (penjelasan). Tapi kita berpikir sebaliknya. Jadi kalau menerima SMS seperti itu, istighfar dulu. dan berkhusnudhonlah pada saudaramu. Bisa jadi follow up dari agenda-agenda sebelumnya sudah di SMS kan tapi nyangkut tidak tahu dimana. Kalau begini, hal yang bisa diriku sarankan adalah segera balas SMSnya untuk menanyakan kesediannya ditelpon. Siapa tahu dengan menelponnya semua urusan beres tanpa jadi beban pikiran dikemudian hari.
dan ketiga, semisal masalahnya tidak bisa diselesaikan via SMS ataupun telpon. Maka baiknya undangi temen dirimu itu ke meja makan. Ya kalau ikhwan, cukup berdua saja. Tapi kalau akhowat, ya sudah sekalian temen-temen syuro diajak makan. Biar urusannya selesai dan tidak menimbulkan fitnah gan.
Ya pada intinya, marah itu sesuatu hal yang ada pada diri setiap insan. Hewan saja bila di usik akan marah. Apalagi manusia yang terkadang marahnya itu tidak memakai akal logika. Marah yang disebabkan nafsu bukan marah yang disebabkan ibadah dan ukhuwah. Bila marah karena ibadah dan ukhuwah efek sampingnya adalah bisa saling mengingatkan, dan bisa terus diingat. Sehingga mau tidak mau, marahnya berada pada kadar yang tidak menyimpang dari kodrat seorang muslim sendiri. Menurutku begitu gan. Bagaimana dengan mu?
Dan satu yang harus selalu kita ingat gan. Sebelum emosi diri kita meledak-ledak pikirkan bahwa sebenarnya orang yang akan dirimu marahi itu pernah memiliki
amaliyah yang sangat baik terhadap dirimu. Jadi ingatlah selalu kebaikan orang-orang yang berada di sekelilingmu. Sehingga ketika marah dirimu cuma bisa bilang "aku marah". Setelah itu. Ya selesai urusan marah-marahnya.
Kalau marah, perbanyaklah istighfar, sucikan hatimu dengan wudlu. Insyaa Allooh dijamin, orang yang ingat Allooh pasti akan dijauhkan dari amarah apapun.
wallohua'lam..
semoga berkenan ya gan.
fhoto diambil dari
sini