Kamis, April 03, 2014

Ustad Ndeso

Belakangan banyak orang terkenal dengan berbagai jenis talentanya. Tidak hanya calon artis saja yang terkenal dengan berbagai keahliannya. Bahkan televisi telah menyihir penontonnya dengan menampilkan beragam jenis kehebohannya. Mulai dari dunia hiburan sampai dunia beritanya. Tak heran bila kebanyakan public figure menjadi begitu terkenal hanya dengan sorotan media. Apakah nantinya omongan, kelakuan, dan kepribadian sang public figure pantas atau tidak pantas ditiru. Itu semua dipikir nanti, belakangan. Yang penting rating program televisinya naik. Dan karyawan televisinya bisa makan. Apalagi program gosip. Maaf ya, ini satu pekerjaan yang tidak pantas ditiru sama sekali.

Bagi saya pribadi. Manusia di dunia ini yang tidak begitu terkenal namun mempunyai jasa yang tak terhingga serta jauh dari sorotan kamera media adalah manusia yang nantinya akan dikenali terlebih dahulu oleh sang Maha Penciptanya. Kenapa? Karena amal sholehnya jauh dari sorotan media semasa hidup di dunia. Sehingga hitungan riya' baginya sangatlah minin. Itulah konsekwensi menjadi orang yang rendah hati. Tak niat mendapat pamrih. Tak mudah menerima pujian. Tak nyaman meninggalkan kebajikan.

Teringat ustadku dulu. Saking begitu sahajanya ia. Ia sosok yang menenangkan. Setiap omongannya bagiku adalah raja ilmu yang mengesankan. Pribadinya yang sederhana tidak lantas menjadikan kami para muridnya menjadi kurang ajar terhadapnya. Justru karena kehidupan beliau yang demikian, kami mampu belajar dengan hati yang nyaman. Sekalipun bila waktu mengaji tiba, rotan tidak lepas dari genggaman jemari kokohnya. 

Waktu dulu, saya adalah anak kecil yang benar-benar ndeso. Tidak mudah bergaul dengan teman sebaya. Tidak gampang menegur sapa dengan para orangtua. Dan tidak pula ringan mengayunkan senyuman dengan tetangga. Keahlian saya yang terkenal saat itu adalah menangis. Dan satu RT juga tahu bila cengeng adalah hobi saya. Masa kecil adalah dunia yang samar-samar untuk kembali ku ingat. Terakhir yang saya ingat saat saya pertama sekali memasuki masjid untuk menunaikan ibadah sholat jum'at. Saya hanya mengikuti teman yang bernama ibrahim kala itu. Ikut saja masuk ke masjid. ambil duduk di shof paling belakang. Apakah waktu itu saya mengenal adab sholat? Wah, jangankan adab sholat. berwudlu saja saya belum bisa. Dan sudah bisa dipastikan bila saya belum wudlu. namun dikarenakan ini adalah ritual sehbahyang (zaman dulu sholat dikenal dengan sebutan demikian) pertama yang saya lakukan. saya berusaha anteng. Tapi saya tidak bisa anteng, sebab terbawa suasa teman yang ngobrol. beberapa kali ngobrol, beberapa kali pula harus mendapat teguran dari orang dewasa saat itu. Disela-sela obrolan, saya buang angin tanpoa disengaja. Dan saat itu saya disuruh keluar untuk mengambil wudlu lagi. Awalnya saya tidak mau. tapi karena paksaan. M

Berangkat dari kepolosan itu. Saya beranikan diri sepekan sekali sholat jum'at. Dan dipekan berikutnya saya mulai belajar tahu bahwa mandi merupakan hal yang dilakukan sebelum berangkat jum'atan. Waktu itu wudlu masih ngasal. ya namanya juga anak kecil, jangankan wudlu. Buang ingus saja masih belum bisa. Jadi ya berangkat jum'atanseadanya. Niat pun tidak pernah. Yang penting jalan.

Dikarenakan masjid desa adalah tempat interaksi kedua saya setelah sekolahan. Saya juga ingin belajar ngaji seperti teman lainnya. ternyata ngaji iqro' itu enak. yang nggak enak itu satu. Kalau Salah satu huruf. berdiri dipojokan papan tulis masjid agak lama sambil memperhatikan yang lainnya mengeja huruf hijaiyah. itu kalau sang ustad sedang tidak membawa rotan. kalau bawa rotan ya tanggung sendiri akibatnya. telapak tangan ini akan siap menerima pecutannya. Peraturan salah ini tidak hanya berlaku saat mengaji iqro' saja. melainkan juga saat sholat ketahuan maninan. Saat simulasi sholat dengan bacaan yang dikeraskan juga berlaku. Tapi dengan cara yang seperti itulah saya bisa menikmati qur'an sampai sejauh ini. Sampai detik ini. Sosok beliau belum bisa saya lupakan. Terutama sikap santun beliau.

Dulu, jangankan jalan yang sudah beraspal seperti saat ini. Listrikpun belum ada. Dan dikarenakan jadwal ngaji iqro' yang sering berubah-ubah. Kami harus mengantisipasi bila ngajinya ba'da magrib. Mengantisipasi dengan membuat obor bambu. Saya dan ibrahim sekelaurga memang rumahnya jauh dari masjid desa. Dan dengan sengaja membuat obor bambu tersebut. Waktu itu sumbunya pakai serabut kelapa yang sudah diolesi damar serta minyak lampu yang sudah diisikan didalam bambu. Gara-gara jadwal sering berubah itulah kami harus menyesuaikan dengan program dari ustad. Dan ada satu kisah yang tidak sya lupakan saat bersama beliau. Yakni belajar muadzin di agenda kultum ahad pagi. Saya tidak pernah menyangka, sabtu malam saya ditunjuk sang ustad untuk menjadi muadzin di masjid. Dasar anak yang sok pinter. Ya saya iyakan saja. Padahal aseli saya tidak tahu bagaimana cara adzan. Dan memang tidak hafal lafadznya sampai akhir. Paling banter ya sampai Alloohuakbar diawal saja. Setelah itu babar blas nggak tahu sama sekali. Tapi, kejadian ini akhirnya harus saya syukuri. Berkat mental yang sudah tertata dari pengalaman menjadi muadzin ngasal. Dikemudian hari saya pernah memenangkan lomba adzan dengan menyabet peringkat tiga diperlombaan tingkat RT. Terimakasih ustadku.

Ini satu lainnya kisah diwaktu yang berbeda pula. Saat itu saya sudah besar. Sudah selevel SMA. Suatu pagi ketika akan menuju sekolah. Saya berpapasan dengan sosok yang tidak asing lagi. Itulah sosok yang belakangan saya rindukan. karena memang beliau sudah lama pindah dari kota duri menuju kota Bangkinang. Dan saat itu Ia masih tetap seperti yang dulu. Ia masih suka melemparkan senyuman, ia pun masih suka menjabat tangan. lalu ia jabat tanga saya sambil tersenyum sembari membungkukkan dadanya. Ia berlaku demikian bukan karena udzur lantas susah untuk meneggakkan badannya. Melainkan karena ilmu beliau sudah mencapai maqom (kedudukan) yang bijaksana. Ia rendahkan pandangannya, ia sapa saya dengan nama yang lengkap. Subahanallooh. kejadian bertahun-tahun lamanya ini susah untuk saya lupakan. Aneh memang bila ada seorang ustad menundukkan pandangannya serta membungkukkan badannya dihadapan murid yang belum tentu mendo'akannya setiap saat. Dan ini sangat jarang saya jumpai. Yang saya tahu, saat ini banyak guru ingin disajeni. Dan hanya satu dua orang saja yang pandai mendoa'akan muridnya dalam diam.

terimakasih guru ngajiku, Ustad Maklum Abu Yahya (Semoga Allooh meridhoi mu beserta keluarga tercinta)

0 komentar:

Posting Komentar


Silahkan sahabat blogger berkomentar apapun si sini. Dan mari membudayakan berkomentar dengan bahasa yang dapat membangun motivasi, saling mengingatkan, dan saling menasehati. Saya tunggu komentarnya :)