
"Haha. Sudahlah akh, let it go. biarkan dia. Kalau jodoh pasti ketemu. Kalau undangannya datang duluan berarti ada yang lebih baik dari dia. Ini lho ane, akh fulan, dan mas fulan kemarin nyamar jadi preman. Sudah lah akh dunia antum suram gara-gara mikir dia. Belum tentu pula. Semangat akh. Ayo hidup baru yang lebih semangat. Banyak peristiwa menarik menunggu antum".
Kurasa, SMS tadi malam adalah bentuk cintanya kepadaku. Ya khusus buat ku. Khusus buat sahabatnya yang belum bisa memenuhi panggilan dakwah bersamanya di sana. Kurasakan betul nikmat bersahabat dengannya dan kalian. Ringan namun mengharukan. Bila ku kenang masa penggemblengan waktu itu. Ku ingin berkali-kali menangis bersama kalian. Saat ini ku hanya bisa ucapkan "aku cinta kalian, aku cinta kalian, aku cinta kalian".
Saat ini aku iri dengan loyalitas kalian. Ku ingin seperti kalian, menangis dengan cinta dan berkorban juga dengan cinta. Senyum kalian menggambarkan wajah yang penuh keikhlasan. Ku hanya bisa membayangkan wajah-wajah kalian wahai para penggenggam kesyahidan. Tahajudku malam tadi hanya bisa menangis dan menangis. Menangisi diri yang belum mampu berubah secara totalitas. Menangisi diri yang belum kuat secara bathiniah. Menangisi diri yang belum kokoh secara keyakinan.
Saat yang lain terlelap ditelan kesunyian malam. Ku hanya bisa bangun dari kesadaran. Sadar bahwa diri ini punya Allooh yang siap mendengarkan curhatanku setiap waktu. Sadar akan nasehat yang beberapa jam lalu ku baca dari SMS-SMS itu. Ku tahu. Disini aku bukan milik satu orang saja. Tapi aku sudah pernah berjanji menghujamkan kaki sampai mati dijalan dakwah ini. Dan diriku milik siapa saja dalam barisan ini.
Dahulu, tangisan ku mampu menenangkan hati ini. Menenangkan satu kebencian dan mengubahnya menjadi cabang-cabang cinta. Namun kini, tangisanku yang ku perlihatkan dihadapan Allooh tadi malam adalah tangisan duka yang membuat sekujur tubuh merasakan efek ketidak berdayaanku dihadapanNya sang pembolak balik hati. Aku kerdil, kecil tak bernyali. Aku hanya mampu berkata "Aku harus memiliki cinta". Cintanya Allooh yang mampu menguatkan diriku menggapai semua yang menjadi anganku di jalan ini. Dan satu hal. Jodoh itu rezeki. Menerimanya adalah bentuk syukur kepadaNya. Kalau memang dia jodohku. Berarti memang sudah saatnya ku membuka hati untuknya. Tak perlu kupikirkan siapa dan bagaimana dirinya yang saat ini baru menjadi "calon pendamping hatiku". Toh masih calon. Dan semuanya juga calon. Masih tidak pasti. Tapi amanah dakwah itu pasti.
SMS tadi malam itu menampar hatiku. Menampar sisi-sisi keikhwananku. Dan lagi-lagi aku harus jeli membedakan mana yang Amanah Dakwahku dan mana yang Aminah Dakwahku kelak. Do'anya kawan, ku harus menata ulang sekat-sekat hati ini. Membersihkannya dan memagarinya dengan cinta yang suci. Kelak. Ku hanya ingin mempoligamikan Aminahku dengan Amanahku. Sehingga, cukup kecemburuan aminahku hanya kepada amal-amal dakwahku saja. Dengan begitu. Dirinya mampu mengejar syurga itu dari diriku.
Terimakasih kawan. Do'aku bersamamu.
Terimakasih kawan. Tanpamu aku bukan siapa-siapa disini,
Terimakasih kawan. Semangat mu membakar azamku
Terimakasih kawan. Cinta kalian menguatkan asaku,
Terimakasih kawan. Aku cinta kalian.
Aku cinta kalian, aku cinta kalian, aku cinta kalian, aku cinta kalian, aku cinta kalian..
Baarakallohu fiikum ya akhi fillah.. Ana uhibukum fillah. :)






:)
BalasHapusCinta. catatannya tiada akhir
Karena mulanya berawal dari cinta mas (senyum)
BalasHapus